WELCOME....

Welcome on my blog.


Your comment make me smile :)
Tampilkan postingan dengan label KNOWLEDGE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KNOWLEDGE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

SEMINAR ON GRAMMAR


The thesis discuses some proverbs but there are some grammatical mistakes.
1.      This proverb is a compound sentence which consists of two clauses so it has two subject and predicate.
·         It should be: This proverb is a compound sentence which consists of two clauses so it has two subjects and predicates.
Ø  Word “subject and predicate” is plural so it should be added by “s”.

2.      While the TL proverb; besar berudu di kubangan, besar buaya di laautan; is a phrase that consist of two noun phrases.
·         It should be: The TL proverb: besar berudu di kubangan, besar buaya di laautan: is a phrase that consists of two noun phrases.
Ø  Word “while” should not be used in the beginning of sentence, because word “while” is conjunction of clause and not a sentence connector.
Ø  Word “consist” refers to a phrase, so it should be added by “s”.

3.      These proverbs have same illustrate that everybody love their homes or places where they live within.
·         It should be: These proverbs have same illustration that everybody loves their homes or places where they live.
Ø Word “illustrate” has function as a noun so it should be “illustration”.
Ø Word “love” should be added by “s” because it has singular subject.

4.      While it has meaning shift that the SL means janganlah menolak tawaran yang baik and the TL means the banana tree has results once in its live and dies after that.
·         It should be: It has meaning shift that is the proverb in the SL means janganlah menolak tawaran yang baik and the proverb in the TL means the banana tree bears fruit one in its life and dies after that.
Ø The phrase “has results” in the sentence means “menghasilkan” whereas the word that intended is “berbuah”, so the right word to use is “bears fruit”.
Ø  Word “while” should not be used in the beginning of sentence, because word “while” is conjunction of clause and not a sentence connector.
Ø  Word “live” has function as a noun, so it should be “life”

5.      For each meaning of the proverbs has interpretation that a second chance is never come twice and accept it do not refuse, so use it well.
·         It should be: Each meaning of the proverbs has interpretation that a second chance never comes twice, so do not refuse it.
Ø Word “for” should not be used in the beginning of sentence, because word “for” is conjunction of clause.
Ø The sentence “accept it do not refuse, so use it well” is too long. So it should be changed into “so do not refuse it”.
Ø Word “come” refers to a second chance, so it should be added by “s”

6.      In these proverbs have meaning shift but it have similar illustrate.
·         It should be: These proverbs have meaning shift but they have similar illustration.
Ø Word “in” as preposition should not be used in the beginning of sentence.
Ø Word “it” should be changed “they” because word “it” refers to “these proverbs”.
Ø Word “illustrate” has function as a noun so it should be changed into “illustration”.

7.      People who looking for luck for himself when there is a disorder or something that avoided by someone maybe done by another.
·         It should be: People who look for luck for himself when there is disorder or something that is avoided by someone maybe done by another.

PERBEDAAN SEMANTICS DAN PRAGMATICS



Pengertian:
-          Semantics: kajian linguistic yang mempelajari makna dari morfem, kata, frasa, dan kalimat.
-          Pragmatics: kajian linguistic yang mempelajari makna kontekstual di balik sebuah ujaran atau makna yang tercipta pada saat sebuah ujaran tersebut diujarkan.
Objek kajian:
-          Semantics: morfem, kata, frasa, kalimat
-          Pragmatics: ujaran (semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ujar manusia yang mempunyai makna)
Keterangan:
-          Semantics hanya mempelajari makna abstrak, yaitu hanya makna yang melekat pada morfem, kata, frasa, kalimat tersebut. Semantics tidak mempedulikan situasi saat morfem, kata, frasa, atau kalimat tersebut digunakan.
-          Pragmatics tidak hanya mempelajari makna yang melekat pada morfem, kata, frasa atau kalimat yang digunakan. Tapi juga mempelajari konteks saat sebuah ujaran tersebut diujarkan. Pragmatics memperhatikan waktu, tempat, siapa yang mengujarkan, dan pada siapa ujaran itu ditujukan.
-          Objek kajian semantics hanya memiliki satu makna, yaitu makna yang melekat padanya yang sesuai dengan kamus.
-          Objek kajian pragmatics mempunyai makna yang beragam tergantung interpretasi setiap orang yang mendengar ujaran tersebut diujarkan.

(1)  Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya, sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut.
(2)  Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa, sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna.
(3)  Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional, artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik.
(4)  Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa.
(5)  Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan aspek-aspek struktur wacana.
(6)  Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi, terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya.
            Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. Yang jelas disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat, melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act)

Perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik:
Perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik:
1. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik.
Contoh:
Di sebuah ruang kelas, Dewi duduk di deretan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya, “Pak, maaf saya mau ke belakang.
Kata yang bergaris bawah itu ‘belakang’ secara semantik berarti lawan dari depan, berarti kalau dikaji secara semantik, Dewi hendak ke belakang. Akan tetapi, kalau kita lihat konteksnya, Dewi sudah duduk di deretan paling belakang. Tentu saja tidak mungkin makna ‘belakang’ yang diartikan secara semantik yang dimaksud Dewi. Nah, sekarang kita kaji dengan menggunakan pragmatik, di mana dalam pragmatik ini dilibatkan yang namanya “konteks”. Konteksnya apa? Konteksnya yaitu keadaan Dewi yang sudah duduk di belakang, sehingga tidak mungkin ia minta izin untuk ke belakang lagi (kita gunakan logika). Biasanya, orang minta izin ke belakang untuk keperluan sesuatu, seperti pergi ke toilet atau tempat lainnya. Nah, kalau yang ini masuk akal kan?
Jadi, makna kata ‘belakang’ dalam kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik, hanya bisa dijelaskan secara pragmatik. Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik berada di luar jangkauan semantik.
2. Sifat kajian dalam semantik adalah diadic relation (hubungan dua arah), hanya melibatkan bentuk dan makna. Sifat kajian dalam pragmatik adalah triadic relation (hubungan tiga arah), yaitu melibatkan bentuk, makna, dan konteks.
3. Semantik merupakan bidang yang bersifat bebas konteks (independent context), sedangkan pragmatik bersifat terikat dengan konteks (dependent context). Hal ini dapat dijelaskan pada contoh soal poin ke-1. Pada contoh tersebut, ketika makna kata ‘belakang’ dikaji secara semantik, ia tidak memperhatikan konteksnya bagaimana (independent context), ia hanya dikaji berdasarkan makna yang terdapat dalam kamus. Namun, ketika kata ‘belakang’ dikaji dengan pragmatik, konteks siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, di mana, dan apa tujuannya ini sangat diperhatikan, sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya.
4. Salah satu objek kajian semantik adalah kalimat, sehingga semantik ini sering disebut makna kalimat. Dalam pragmatik, objek kajiannya adalah tuturan (utterance) atau maksud.
5. Semantik diatur oleh kaidah kebahasaan (tatabahasa), sedangkan pragmatik dikendalikan oleh prinsip komunikasi. Jadi, kajian makna dalam semantik lebih objektif daripada pragmatik, karena hanya memperhatikan makna tersebut sesuai dengan makna yang terdapat dalam leksemnya. Kajian makna pragmatik dapat dikatakan lebih subjektif, karena mengandung konteks/memperhatikan konteks. Dan setiap orang pasti mempunyai makna sendiri sesuai dengan konteks yang dipandangnya. Selain itu, pragmatik juga dimotivasi oleh tujuan komunikasi. Selain itu, pemaknaan semantik itu ketat, karena terpaku pada makna kata secara leksikal (tanpa konteks), sedangkan pemaknaan pragmatik lebih lentur karena tidak mutlak bermakna “itu”.
6. Semantik bersifat konvensional, sedangkan pragmatik bersifat non-konvensional. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tatabahasa atau menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan.
7. Semantik bersifat formal (dengan memfokuskan bentuk: fonem, morfem, kata, klausa, kalimat), sedangkan pragmatik bersifat fungsional.
8. Semantik bersifat ideasional, maksudnya yaitu makna yang ditangkap masih bersifat individu dan masih berupa ide, karena belum dipergunakan dalam berkomunikasi. Sedangkan pragmatik bersifat interpersonal, maksudnya yaitu makna yang dikaji dapat dipahami/ditafsirkan oleh orang banyak, tidak lagi bersifat individu, karena sudah menggunakan konteks.
9. Representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan interpretasi pragmatiknya.
Contoh: “Kawan, habis makan-makan kita minum-minum yuk…”
• Dikaji dari semantik, kata “minum-minum” berarti melakukan kegiatan ‘minum air’ berulang-ulang, tidak cukup sekali minum.
• Dikaji dari segi pragmatik, kata “minum-minum” berarti meminum minuman keras (alkohol).